Persamaan Diophantine adalah sebuah persamaan suku banyak di mana variabel – variabel yang terlibat didefinisikan atas bilangan bulat. Nama Diophantine sendiri diambil dari seorang matematikawan bernama Diophantus, yang mempelajari tipe persamaan tersebut pada abad ke-3. Ia juga merupakan salah satu matematikawan yang mengenalkan simbol pada bidang aljabar. Bidang yang mempelajari masalah-masalah pada persamaan Diophantine saat ini dikenal dengan nama Diophantine analysis atau analisis Diophantine. Masalah yang dipelajari biasanya terkait dengan mencari eksistensi solusi, banyak solusi, atau cara untuk mendapatkan semua solusi.
Secara umum, persamaan Diophantine terbagi menjadi dua kategori, yakni persamaan Diophantine linear dan persamaan Diophantine non-linear. Persamaan Diophantine linear hanya melibatkan suku banyak berorder , sedangkan persamaan Diophantine non-linear melibatkan suku banyak berorder lebih dari
. Di samping itu, terdapat juga tipe persamaan Diophantine di mana suku pada pangkat yang terlibat berupa suatu variabel. Persamaan ini dikenal dengan persamaan Diophantine eksponensial.
Pada artikel ini akan dibahas mengenai persamaan Diophantine linear.
Secara umum, persamaan Diophantine linear dapat dinyatakan ke dalam bentuk
(1)
dengan merupakan bilangan bulat dan
untuk setiap
.
Tipe masalah yang umumnya ditanyakan pada pesamaan Diophantine linear adalah mencari solusi bulat persamaan tersebut. Tentunya dalam mencari solusi, perlu diselidiki terlebih dahulu apakah persamaan tersebut memiliki solusi bulat atau tidak. Teorema di bawah ini memberikan syarat cukup dan perlu kapan suatu persamaan Diophantine linear memiliki solusi bulat.
Teorema 1. [Identitas Bezout]
[box] Persamaan (1) memiliki solusi bulat jika dan hanya jika habis membagi
. Lebih lanjut, jika persamaan (1) memiliki solusi bulat, maka semua solusi bulat dari persamaan (1) dapat dinyatakan ke dalam
parameter. [/box]
[learn_more caption=”Bukti:” state=”open”]
Untuk mempermudah penulisan, misalkan .\\
\noindent Misalkan persamaan (1) memiliki solusi bulat. Andaikan
tidak habis dibagi oleh
. Perhatikan bahwa ruas kiri dari persamaan (1) habis dibagi oleh
, sedangkan ruas kanannya tidak. Terjadi suatu kontradiksi. Dengan demikian,
habis dibagi oleh
\noindent Misalkan
habis membagi
. Diperoleh bahwa persamaan (1) ekuivalen dengan
(2)
dengan dan
. Jelas bahwa
.
Akan digunakan induksi matematika untuk membuktikan persamaan (2) memiliki solusi bulat.
- Basis induksi:
. Persamaan (2) menjadi
atau
. Diperoleh
atau
merupakan solusi, dan solusi ini tidak berisi parameter.
- Langkah induksi: Diasumsikan persamaan (2) dengan
variabel memiliki solusi bulat. Akan dibuktikan bahwa persamaan (1) dengan
variabel memiliki solusi bulat. Misalkan
. Diperoleh bahwa setiap solusi bulat dari persamaan (2) memenuhi
(3)
Dengan mengalikan kedua ruas pada persamaan (2) dengan
dan menggunakan fakta bahwa
, diperoleh
dengan
. Artinya,
untuk suatu bilangan bulat
. Dengan mensubstitusi
ke persamaan (2), diperoleh
Hal ini berarti,
habis membagi
atau yang ekuivalen dengan
, sebab
. Akibatnya, dengan membagi kedua ruas persamaan terakhir dengan
, diperoleh
(4)
dengan
untuk
dan
. Karena
, maka sesuai asumsi induksi, persamaan (4) memiliki solusi bulat dan solusinya dapat ditulis ke dalam
parameter. Jika pada solusi tersebut ditambahkan
, diperoleh persamaan (2) memiliki solusi bulat dan solusinya dapat ditulis ke dalam
parameter.
Terbukti bahwa persamaan (2) memiliki solusi bulat dan solusinya dapat ditulis ke dalam parameter.
[/learn_more]
Contoh:
Selidiki apakah masing-masing persamaan berikut memiliki solusi bilangan bulat ? Jika ya, tentukan salah satu solusinya.
.
- Â
.
Solusi:
Pertama-tama, akan dicari . Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan algoritma Euclid. Berdasarkan algoritma Euclid,
Jadi, .
- Karena
tidak habis membagi
, berdasarkan Teorema ??, persamaan
tidak memiliki solusi bulat.
- Karena
habis membagi
, berdasarkan Teorema ?? persamaan
memiliki solusi bulat. Salah satu solusinya dapat dicari dengan menggunakan algoritma Euclid. Diperhatikan bahwa
Diperoleh
sehingga didapat
. Jadi,
dan
memenuhi persamaan
.
Salah satu akibat langsung dari Teorema 1 adalah jaminan bahwa solusi persamaan 1 ada ketika faktor persekutuan terbesar dari koefisien-koefisien pada setiap variabel adalah 1.
Akibat 1.
[box] Jika pada persamaan (1) berlaku , maka persamaan tersebut memiliki solusi bulat.[/box]
Setelah mengetahui eksistensi solusi bulat persamaan Diophantine linear, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mencari seluruh solusi bulat persamaan tersebut. Secara umum, tidak terdapat formula khusus untuk mencari solusinya. Namun, untuk persamaan Diophantine linear dengan dua variabel, semua solusi bulat dapat diperoleh dengan memanfaatkan Teorema ?? berikut.
[box] Diberikan dan
bilangan bulat dengan sifat
habis membagi
. Jika
merupakan solusi bulat dari persamaan
maka setiap solusi bulat dari persamaan tersebut dinyatakan dalam bentuk
untuk suatu bilangan bulat .[/box]
[learn_more caption=”Bukti:” state=”open”]
Karena merupakan solusi bulat dari persamaan
, berlaku
. Diambil sebarang
solusi bulat persamaan
. Diperoleh
Dengan membagi kedua ruas persamaan tersebut dengan , diperoleh
dengan dan
di mana
. Perhatikan bahwa
habis membagi ruas kiri persamaan terakhir. Akibatnya,
juga habis membagi
. Karena
, diperoleh
habis membagi
. Artinya, terdapat bilangan bulat
dengan sifat
atau
. Dengan mensubstitusi nilai
ke persamaan terakhir, diperoleh
. Terbukti.
[/learn_more]
Teorema ?? juga dapat dimanfaatkan untuk mencari solusi bulat persamaan Diophantine linear atas tiga variabel atau lebih.
Contoh:
Tentukan semua tripel bilangan bulat () yang memenuhi persamaan
.
Solusi:
Persamaan tersebut ekuivalen dengan . Misalkan
. Diperoleh
Perhatikan bahwa merupakan salat satu solusi bulat persamaan tersebut. Berdasarkan Teorema ??, diperoleh
dan
untuk suatu bilangan bulat
. Dengan demikian, solusi dari persamaan tersebut adalah
dengan dan
merupakan bilangan bulat.
Perhatikan bahwa Akibat ?? memberikan jaminan bahwa persamaan selalu memiliki solusi bulat untuk setiap bilangan asli
jika
. Bagaimana jika solusi yang diinginkan adalah bilangan bulat non-negatif. Secara umum, terdapat ada tak berhingga bilangan asli
sehingga persamaan tersebut memiliki solusi bulat non-negatif. Teorema Frobenius berikut memberikan banyaknya bilangan asli
yang menyebabkan persamaan
tidak memiliki solusi bulat non-negatif.
Teorema [Teorema Frobenius]
[box] Diberikan bilangan bulat positif dan
dengan
. Banyaknya bilangan bulat positif
yang menyebabkan persamaan
tidak memiliki solusi bulat non-negatif adalah
[/box].
[learn_more caption=”Bukti:” state=”open”]
Katakan bilangan bulat positif “baik” jika persamaan
tidak memiliki solusi bulat non-negatif. Perhatikan susunan berikut:
di mana setiap kolom membentuk barisan artimatika dengan beda .
Jelas bahwa setiap kelipatan dari baik.
Perhatikan bahwa jika ada dua kelipatan dari , katakan
dan
dengan
, berada pada kolom yang sama, maka kedua bilangan tersebut sama. Apabila kedua bilangan tersebut terletak pada kolom yang sama, maka berlaku
. Akibatnya
. Karena
, maka
. Karena
, maka
, sehingga
.
Akan ditunjukkan bahwa setiap bilangan yang berada di atas (dalam satu kolom) salah satu kelipatan ,
, tidak baik. Perhatikan bahwa sebarang bilangan yang berada di atas
berbentuk
untuk suatu bilangan bulat positif
. Jika
baik, maka
untuk suatu bilangan bulat non-negatif
dan
. Diperoleh
, yang berarti
. Akibatnya,
. Di sisi lain, dua bilangan yang terletak pada kolom yang sama kongruen dalam modulo
. Diperoleh
, yang berarti
. Karena
, maka
, suatu kontradiksi.
Perhatikan bahwa jika baik, maka
juga baik untuk setiap bilangan asli
. Dengan demikian, banyaknya bilangan asli yang tidak baik sama dengan banyaknya bilangan yang berada di atas (dalam satu kolom) bilangan berbentuk
,
. Diperhatikan bahwa pada kolom ke-
, terdapat
bilangan yang berada di atas
. Akibatnya diperoleh banyaknya bilangan yang tidak baik adalah
[/learn_more]
Berdasarkan bukti pada Teorema Frobenius di atas, diketahui bahwa bilangan asli terbesar yang menyebabkan persamaan
tidak memiliki solusi bulat non-negatif adalah
. Dengan demikian, diperoleh syarat cukup untuk
agar persamaan
memiliki solusi bulat non-negatif sebagai berikut.
Akibat 2
[box] Diberikan bilangan bulat positif dan
yang saling prima. Persamaan
tidak memiliki solusi bulat non-negatif untuk . Jika
, maka persamaan tersebut memiliki solusi bulat non-negatif
dan
. [\box]
Selanjutnya, Pembaca dapat mengerjakan soal-soal berikut sebagai latihan.
- Tentukan semua solusi bulat persamaan-persamaan linear Diophantine berikut.
a..
b..
c..
d..
- Tentukan semua solusi bulat
dari persamaan
- Tentukan semua bilangan bulat
dan
sehingga
habis membagi 2020.
- Tunjukkan bahwa luas segitiga dengan titik-titik sudut
adalah
- Tentukan bilangan bulat positif
dan
dengan sifat banyaknya bilangan bulat positif
yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk
untuk suatu bilangan bulat non-negatif
adalah 35 dan salah satu bilangan tersebut adalah 58.
- Tentukan bilangan bulat positif terbesar yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk
untuk suatu bilangan bulat positif
dan
dengan
komposit.
1 Comment
Puji Erpe · April 12, 2021 at 10:31 am
Waah, berapa tahun lalu ya belajar materi ini?
Terimakasih atas materinya, jadi mengingat kembali.